SEKILAS TENTANG PENELITIAN BERPARADIGMA KUALITATIF (Oleh: Dr. Taufiq Ramdani, M.Sos)

10 Okt

SEKILAS TENTANG PENELITIAN BERPARADIGMA KUALITATIF

Dr. Taufiq Ramdani, M.Sos

Definisi Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang temuannya diperoleh berdasarkan paradigma, strategi, dan implementasi modal secara kualitatif. Perspekptif, strategi dan model yang dikembangkan sangat beragam, oleh sebab itu tidak mengherankan jika terdapat anggapan bahwa qualitative research is many thing to many people. Meskipun demikian, berbagai bentuk penlitian yang diorientasikan pada metodologi kualitatif memiliki beberapa kesamaan yaitu: (a) data disikapi sebagai data verbal (b) diorentasikan pada pemahaman makna baik merujuk pada ciri, hubungan sistemis, konsepsi, nilai, kaidah dan abstraksi formulasi pemahaman atau salah satunya (c) mengutamakan hubungan secara langsung antara peneliti dengan dunia yang diteliti dan (d) mengutamakan peran peneliti sebagai insturmen kunci.

 

Tujuan Penelitian Kualitatif

Tujuan dalam penelitian kualtatif idealnya diarahkan oleh paradigma yang digunakan. Orientasi paradigma sebagaimana tercermin dalam asumsi, konsepsi teoritik, dan konsepsi metodologis tersebut secara umum dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yakni paradigma (1) positivisme, (2) konstruktivis dan (3) posmodernis. Dalam prakteknya, idealisasi demikian tidak senantiasa terimplementasikan karena penelitian kualitatif itu sendiri selain bersifat fleksibel juga menekankan pada penggunaan multiperslektives dan multimetods.

 

a) Orientasi Pospositivis

Bagi pospositivis realitas disikapi sbagai fakta yang (1) bersifat ganda (2) dapat disistematisasikan (3) mengemban ciri, konsepsim dan hubungan secara asosiatif, serta (4) mesti dipahami secara ilmiah, kontekstual, dan holistik. Ditinjau dari perspektif positivis, misi ataupun tujuan penelitian kualitatif mungkin bersifat eksploratif: memahami fenomena secara garis besar tanpa mengabaikan kemungkinan pilihan fokus tertentu secara khusus, (2) eksplanatif: memahami ciri dan hubungan sitemis fenomena berdasarkan faktanya, (3) teoritis: menghasilkan formasi teori secara substantif berdasarkan konseptualisasi, abstraksi ciri, dan sistemisasi hubungan konsep berdasarkan relasi dan kemungkinan variasinya. Dan (4) praktis: memahami fakta fenomena dihubungkan dengan keperluan terapan atau nilai praktis tertentu.

 

 

b) Orientasi Konstruktivis

Dalam perspektif konstruktivis realitas disikapi sebagai gejala yang bersifat tidak tetap dan memiliki pertalian hubungan dengan masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Realitas dalam kondisi demikian hanya dapat dipahami berdasarkan konstruksi sebagaimana terdapat dalam kesadaran maupun dunia pengalaman peneliti dalam pertaliannya dengan kehidupan kemanusiaan. Oleh sebab itu pemahaman atas suatu realitas selain bersifat relatif juga bersifat dinamis. Pemahaman dengan demikian bukan ditemukan melainkan diproduksikan berdasarkan dunia pengalaman sebagai out of worlds.

Dalam perspektif konstruktivis misi penelitian kualitatif bukan untuk memecahkan masalah ataupun membentuk teori melainkan membangun dan mengartikulasikan pemahaman secara akumulatif.

 

c) Orientasi Postmodernis

dalam orientasi posmodernis pemahaman tentang realitas ada dalam hubungan: presensi/teks/realitas            konstruksi/dekonstruksi          pemahaman. Misalnya ada pertanyaan: apakah itu? Maka pengajuan jawabannya mesti diawali dengan penghadiran realitas X sebagaimana terdapat dalam dunia pengalaman dan dinyatakan lewat kata-kata. Pengajuan dan pernyataan tentang realitas itu bisa berlangsung karena peneliti memiliki bahasa yang memungkinkan peneliti menghadirkna / menguntai butir-butir pengalaman yang terbentuk berdasarkan kesadaran terhadap dunia luar.

Proses penghadiran realitas pada tahap presensi/teks/realitas oleh Derrida dinyatakan dalam The Written Being/The Being Written. Pernyataan demikian merujuk pemikiran bahwa penghadiran realitas sebagai teks/penghadiran teks sebagai realitas pada dasarnya mengacu pada being sebagai realitas yang mengada dalam dunia pengalaman. Untuk memahami realitas sebagai teks peneliti perlu mengadakan konstruksi/dekonstruksi yang oleh Derrida dihubungkan dengan konsep reivent invention.

Berbeda dengan konsep konstruksi yang mengandaikan terdapatnya akumulasi pemahaman sebagai “konstruksi” posmodernis menyikapi pemahaman ada dalam kondisi dekonstruktif. Pemahaman selain bergantung pada subyek juga bergantung pada realitas yang ada sebagai hyper-reality.

 

Strategi Dalam Penelitian Kuantitatif

 

Strategi Digunakan untuk data Model
Penelitian Lapangan:

Study Kasus

 

 

 

Etnografi

 

 

 

 

Interaksionisme- Simbolik

 

 

 

 

Naturalistic Inquiry

 

 

 

 

Grounded theory

 

 

 

 

 

Memahami indibidu, kelompok, lembaga, latar tertentu secara mendalam

 

Memahami budaya

Atau aspek kebudayaan dalam kehidupan sosial

-masyarakat

 

Memahami makna perilaku manusia dalam kehidupan: motif, wawasan, internalisasi nilai.

 

Memahami fenomena interaksi, perilaku, tipe dalam latar natural

 

 

Menyusun/mengem-

bangkan/merekon-

struksi teori secara

induktif

Catatan lapangan, wawancara terstruktur, wawancara mendalam.

 

 

Catatan lapangan. Hasil partisipasi-observasi, interviu dan rekaman

(foto, dsb).

 

Catatan lapangan hasil partisipasi observasi yang tertransposisikan sebagai simbol dari sesuatu.

 

Catatan lapangan, hasil partisipasi-observasi; wawancara/dialog mendalam.

 

Catatan lapangan, hasil partisipasi-observasi,

Interviu, rekaman, dokumen sebagai bahan induksi teori

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pospositivis

Etnometodologi

 

 

 

 

 

Entografi-teks

 

 

 

 

 

Penelitian tindakan

Memahami gejala kemanusiaan dan esensi maknanya dalam suatu kelompok sosial masyarakat/individu.

 

Memahami gejala kemanusiaan dan esensi maknanya dalam suatu kelompok sosial masyarakat/individu.

 

Deskripsi, konsepsi, dan pengambilan keputusan secara kritis berdasarkan rekaman, pemantauan, dan evausai terahadap tindakan dan hasil tindakan.

Dialog dan partisipasi dalam interaksi.

 

 

 

 

Teks individual:catatan harian, pengalaman pribadi, teks orang lain.

 

 

 

Rekaman ongoing prosess dan hasil tindakan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Konstruktivis

Pluralisme inferensial Menemukan pemahaman detil fakta secara intertekstual dan pertaliannya dengan empowerment. Pengalaman simbolik dan wacana keseharian  

 

Posmodernis

       

 

 

 

Model Dalam Penelitian Kualitatif

 

Bertolak dari uraian di atas bisa dipahami bahwa ada berbagai kemungkinan model dalam penelitian kualitatif. Dari berbagai kemungkinan model yang dapat disusun tersebut setiap model secara umum mesti menggambarkan  (i)fokus, baik sebagai tujuan maupun permasalahan, (ii) konsep teoretikal, baik dalam bentuk teori  formal maupun sistemisasi konsep berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, (iii) strategi penelitian, sebagai metode yang disusun secara formal dan berpeluang direplikasikan, sebagai metode yang disusun berdasarkan electic framework, maupun strategi yang disusun berdasarkan tujuan dan dikerangkakan berdasarkan artikulasi dunia pengalaman peneliti, dan (iv) hasil penelitian, yang mungkin dalam bentuk eksplorasi, eksplanatoris, des-kripsi, akumulasi interpretasi dan narasi. Dalam formulasinya, penggunaan model tersbut juga ditentukan oleh format yang digunakan. Format tersebut secara umum dapat dirujukkan pad gambar berikut:

 

Model Penelitian Kualitatif:

 

implikasi

hasil                                             teori (tacit/formal)

 

 

strategi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: